Nama :
Dian Ria Sumbaga
NIM :
1504020026
Prodi : Agroteknologi
Tugas : Mata kuliah Kewirausahaan
Dosen : Watemin SP.MP
KONTRIBUSI KERAJINAN ANYAMAN
BAMBU TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA
PETANI DI KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN
Industri rumah tangga di Indonesia
tersebar di berbagai daerah dengan berbagai komoditi. Satu diantaranya adalah
di Kecamatan Petanahan Kabupaten
Kebumen. Industri rumah tangga di Kecamatan Petanahan merupakan potensi yang
besar guna meningkatkan dan memberikan tambahan pendapatan keluarga
petani.Salah satu jenisnya adalah industri kerajinan anyaman bambu. Kerajinan
anyaman bambu merupakan industri rumah tangga dan sebagian besar lokasinya
berada didaerah pedesaan. Kerajinan anyaman bambu merupakan usaha yang
sederhana dengan memanfaatkan bambu, menggunakan modal yang tidak besar,
peralatan yang sederhana dan merupakan keterampilan menganyam yang ditularkan turun temurun.
Produk utama yang dihasilkan secara
turun temurun adalah tudung (caping). Secara turun temurun hingga kini sentra
kerajinan itu masih bertahan.Memang bagi warga Desa Grujugan dan sekitarnya
yang berada di Kecamatan Petanahan, membuat tudung sudah mendarah daging dan
tidak bisa ditinggalkan.Tidak jarang mereka yang sudah menjadi seorang pegawai,
guru, bahkan kepala sekolah pun tetap masih meluangkan waktu untuk membuat
kerajinan tersebut di sela-sela kesibukannya. Bagi para petani, membuat tudung
merupakan lokomotif utama yang menggerakkan perekonomian keluarga. Maklum
sebagai petani, mereka tidak setiap hari mendapatkan penghasilan dari lahan
pertaniannya. Apalagi para buruh. yang tidak memiliki sawah, membuat tudung adalah
jalan keluar agar mereka tetap bisa makan. Jenis kerajinan rumah tangga yang
terdapat di Kecamatan Petanahan ini bemacam-macam jenisnya selain tudung
(caping), ada juga yang membuat tampah, tenong (tempat nasi), sangkar burung
yang terbuat dari bambu (Supriyanto, 2007).
Namun dari industri rumah tangga
tersebut, yang paling dominan dan tetap eksis sampai sekarang tetaplah tudung
(caping). Semula tudung Desa Grujugan hanya dipasarkan di daerah Kebumen dan
Karanganyar, akan tetapi untuk sekarang ini pemasarannya sudah tergolong
lancar. Caping dari Desa Grujugan ini telah menyebar hingga Jatim, Jabar,
Sumatera, khususnya Lampung, Padang, Palembang, dan Sulawesi (Wardopo, 2006).
Kerajinan anyaman bambu merupakan
usaha sampingan yang telah dikembangkan di pedesaan. Usaha kera- jinan ini
mengolah sumber daya alam yang dimiliki oleh pedesaan yaitu tanaman bambu. Saat
ini tanaman bambu telah berkembang dan tersebar diseluruh pelosok Indonesia.
Keadaan ini menunjukkan bahwa bahan baku kerajinan anyaman bambu tersedia di
sekitar lokasi usaha (Gerbono dan Djarijah, 2004).
Agar usaha kerajinan anyaman bambu
dapat meningkat dengan baik, harus ditunjang dengan pengelolaan yang baik sehingga usaha
tersebut semakin berkembang dan mampu bersaing dalam dunia industri khususnya
industri rumah tangga yang sedang banyak berkembang pada saat ini, sehingga
dapat mening- katkan perekonomian masyarakat daerah tersebut. Dengan
pengelolaan yang baik dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Deskripsi Permasalahan Yang Dihadapi Pengrajin
Dari hasil penelitian yang dilakukan
di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen terdapat beragam masalah
yang dihadapi petani pengrajin dalam menjalankan usahanya yaitu terbagi dalam 3
aspek:
Aspek Ekonomi
Dalam aspek ekonomi peneliti
menemukan masalah yang dihadapi para pengrajin dalam mengembangkan usahanya,
hasil dari rata-rata permasalahan setiap petani pengrajin anyaman bambu dalam
aspek ekonomi yaitu mengenai permodalan dan ketidaksetabilan harga yang diterima
pengrajin. Kurangnya modal yang dimilki pengrajin disebabkan karena untuk
pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari, sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk
pemenuhan kebutuhan keluarga jauh lebih besar, hal ini mengakibatkan pengrajin
mengalami kekurangan dalam hal permodalan.
Aspek Sosial
Dari data yang diperoleh di lapang
mengenai aspek sosial pada usaha kerajinan anyaman bambu di Desa Grujugan
Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen, menunjukan bahwa usaha kerajinan anyaman
bambu yang dilakukan merupakan usaha sampingan yang kebanyakan ditekuni oleh
ibu-ibu rumah tangga setiap harinya setelah selesai melakukan pekerjaan rumah
tangga.Usaha kerajinan anyaman bambu di Desa Grujugan belum dikembangkan secara
tepat guna untuk menambah perekonomian masyarakat, mengingat industri kerajinan
pada saat ini mampu menambah perekonomian keluarga dan masyarakat.
Aspek Teknis
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen menun- jukan bahwa rata-rata permasalahan petani pengrajin dalam aspek teknis yang dihadapi adalah mengenai peralatan yang digunakan masih menggunakan peralatan sederhana yaitu menggunakan alat-alat yang masih sederhana belum menggunakan peralatan yang canggih, yang mungkin dapat mempercepat proses produksi. Penganyaman yang dilakukan disini merupakan penganyaman tradisional, yaitu dengan mengandalkan keahlian jari-jemari tangan dalam melakukan penganyaman.
Lain-Lain
Dalam penelitian yang telah
dilakukan di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen, peneliti
menemukan permasalahan lain yang dihadapi petani pengrajin dalam mengembangkan
usahanya yaitu mengenai faktor alam diantaranya adalah pada saat musim
penghujan tiba menyebabkan keterlambatan pasokan lambar yang dapat menyebabkan
terhambatnya proses produksi dan sulitnya untuk melakukan penjemuran.
Dikutip dari :
Jurnal AGRITECH :
Vol. XVII No. 2 Desember 2015 : 113 – 121 ISSN : 1411-1063
Isnaeni Nurhidayah,
Pujiati Utami, dan Watemin
Fakultas Pertanian
Universitas
Muhammadiyah Purwokerto
watemyn@ump.ac.id