Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 26 Oktober 2018

KONTRIBUSI KERAJINAN ANYAMAN BAMBU TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI DI KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN


Nama  : Dian Ria Sumbaga
NIM    : 1504020026
Prodi   : Agroteknologi
Tugas  : Mata kuliah Kewirausahaan
Dosen : Watemin SP.MP

 
KONTRIBUSI KERAJINAN ANYAMAN BAMBU TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI DI KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN

Hasil gambar untuk kERAJINAN ANYAMAN BAMBU KEBUMEN

Industri rumah tangga di Indonesia tersebar di berbagai daerah dengan berbagai komoditi. Satu diantaranya adalah di Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen. Industri rumah tangga di Kecamatan Petanahan merupakan potensi yang besar guna meningkatkan dan memberikan tambahan pendapatan keluarga petani.Salah satu jenisnya adalah industri kerajinan anyaman bambu. Kerajinan anyaman bambu merupakan industri rumah tangga dan sebagian besar lokasinya berada didaerah pedesaan. Kerajinan anyaman bambu merupakan usaha yang sederhana dengan memanfaatkan bambu, menggunakan modal yang tidak besar, peralatan yang sederhana dan merupakan keterampilan menganyam yang ditularkan turun temurun.
Produk utama yang dihasilkan secara turun temurun adalah tudung (caping). Secara turun temurun hingga kini sentra kerajinan itu masih bertahan.Memang bagi warga Desa Grujugan dan sekitarnya yang berada di Kecamatan Petanahan, membuat tudung sudah mendarah daging dan tidak bisa ditinggalkan.Tidak jarang mereka yang sudah menjadi seorang pegawai, guru, bahkan kepala sekolah pun tetap masih meluangkan waktu untuk membuat kerajinan tersebut di sela-sela kesibukannya. Bagi para petani, membuat tudung merupakan lokomotif utama yang menggerakkan perekonomian keluarga. Maklum sebagai petani, mereka tidak setiap hari mendapatkan penghasilan dari lahan pertaniannya. Apalagi para buruh. yang tidak memiliki sawah, membuat tudung adalah jalan keluar agar mereka tetap bisa makan. Jenis kerajinan rumah tangga yang terdapat di Kecamatan Petanahan ini bemacam-macam jenisnya selain tudung (caping), ada juga yang membuat tampah, tenong (tempat nasi), sangkar burung yang terbuat dari bambu (Supriyanto, 2007).
Namun dari industri rumah tangga tersebut, yang paling dominan dan tetap eksis sampai sekarang tetaplah tudung (caping). Semula tudung Desa Grujugan hanya dipasarkan di daerah Kebumen dan Karanganyar, akan tetapi untuk sekarang ini pemasarannya sudah tergolong lancar. Caping dari Desa Grujugan ini telah menyebar hingga Jatim, Jabar, Sumatera, khususnya Lampung, Padang, Palembang, dan Sulawesi (Wardopo, 2006).
Kerajinan anyaman bambu merupakan usaha sampingan yang telah dikembangkan di pedesaan. Usaha kera- jinan ini mengolah sumber daya alam yang dimiliki oleh pedesaan yaitu tanaman bambu. Saat ini tanaman bambu telah berkembang dan tersebar diseluruh pelosok Indonesia. Keadaan ini menunjukkan bahwa bahan baku kerajinan anyaman bambu tersedia di sekitar lokasi usaha (Gerbono dan Djarijah, 2004).
Agar usaha kerajinan anyaman bambu dapat meningkat dengan baik, harus ditunjang dengan pengelolaan yang baik sehingga usaha tersebut semakin berkembang dan mampu bersaing dalam dunia industri khususnya industri rumah tangga yang sedang banyak berkembang pada saat ini, sehingga dapat mening- katkan perekonomian masyarakat daerah tersebut. Dengan pengelolaan yang baik dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Deskripsi Permasalahan Yang Dihadapi Pengrajin

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen terdapat beragam masalah yang dihadapi petani pengrajin dalam menjalankan usahanya yaitu terbagi dalam 3 aspek:
 

Aspek Ekonomi

Dalam aspek ekonomi peneliti menemukan masalah yang dihadapi para pengrajin dalam mengembangkan usahanya, hasil dari rata-rata permasalahan setiap petani pengrajin anyaman bambu dalam aspek ekonomi yaitu mengenai permodalan dan ketidaksetabilan harga yang diterima pengrajin. Kurangnya modal yang dimilki pengrajin disebabkan karena untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari, sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga jauh lebih besar, hal ini mengakibatkan pengrajin mengalami kekurangan dalam hal permodalan.
 

Aspek Sosial

Dari data yang diperoleh di lapang mengenai aspek sosial pada usaha kerajinan anyaman bambu di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen, menunjukan bahwa usaha kerajinan anyaman bambu yang dilakukan merupakan usaha sampingan yang kebanyakan ditekuni oleh ibu-ibu rumah tangga setiap harinya setelah selesai melakukan pekerjaan rumah tangga.Usaha kerajinan anyaman bambu di Desa Grujugan belum dikembangkan secara tepat guna untuk menambah perekonomian masyarakat, mengingat industri kerajinan pada saat ini mampu menambah perekonomian keluarga dan masyarakat.

Aspek Teknis

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen menun- jukan bahwa rata-rata permasalahan petani pengrajin dalam aspek teknis yang dihadapi adalah mengenai peralatan yang digunakan masih menggunakan peralatan sederhana yaitu menggunakan alat-alat yang masih sederhana belum menggunakan peralatan yang canggih, yang mungkin dapat mempercepat proses produksi. Penganyaman yang dilakukan disini merupakan penganyaman tradisional, yaitu dengan mengandalkan keahlian jari-jemari tangan dalam melakukan penganyaman.

Lain-Lain

Dalam penelitian yang telah dilakukan di Desa Grujugan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen, peneliti menemukan permasalahan lain yang dihadapi petani pengrajin dalam mengembangkan usahanya yaitu mengenai faktor alam diantaranya adalah pada saat musim penghujan tiba menyebabkan keterlambatan pasokan lambar yang dapat menyebabkan terhambatnya proses produksi dan sulitnya untuk melakukan penjemuran.

Dikutip dari :

Jurnal AGRITECH : Vol. XVII No. 2 Desember 2015 : 113 – 121 ISSN : 1411-1063
Isnaeni Nurhidayah, Pujiati Utami, dan Watemin
Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
watemyn@ump.ac.id